Web3

Konsep Web3 Masih Harus Berjuang untuk Dikenal Masyarakat, Kalah Pamor dari AI!

Tak banyak yang tahu bahwa Web3 masih sulit dikenali karena kurangnya awareness dari masyarakat. Padahal, Web3 adalah generasi internet berikutnya setelah Web2. Sifatnya yang terdesentralisasi dan penggunaan teknologi blockchain, Web3 diklaim lebih aman dari generasi internet manapun.

Berbeda dengan Web2 yang mengandalkan platform dan layanan terpusat, Web3 dibangun berdasarkan prinsip desentralisasi dan transparansi. Hal ini membuka kemungkinan baru bagi bisnis dan pemasar untuk terhubung dengan pelanggan secara bermakna, memanfaatkan elemen Web3 seperti token sosial, NFT, dan periklanan terdesentralisasi.

Kurangnya Kesadaran Tentang Web3

Lagi-lagi, sayang sekali kurangnya kesadaran tentang Web3 membuat potensinya tidak dapat dimaksimalkan. Menurut survei terbaru dari Consensys, hanya 24% dari total responden yang mengaku familiar dengan konsep Web3. Bisa dikatakan Web3 kalah dengan metaverse dan NFT dari segi awareness masyarakat, di mana masing-masing memiliki tingkat kesadaran 36% dan 34%.

Hal ini sangat kontras dengan kepopuleran cryptocurrency atau aset kripto yang menduduki puncak 92% dalam kesadaran global.

Kesenjangan ini sungguh disayangkan mengingat perusahaan seperti Crypto.com telah memberikan kontribusi besar untuk mengenalkan konsep Web3. Tetapi sayangnya, upaya mereka tampak masih belum memberikan hasil yang diharapkan.

Web3 VS AI

Transformation Web3

Hari ini, Web3 dikatakan ‘kalah pamor’ dari artificial intelligence (AI). Merek-merek besar seperti Coca-Cola justru lebih tertarik untuk memprioritaskan teknologi AI dibandingkan Web3. Tak hanya itu, Disney dan Meta juga berperan dalam penurunan popularitas Web3 lantaran metaverse yang tak lagi berjalan.

Meski demikian, menurut survei tersebut, 70% responden global masih memiliki optimisme tentang Web3. Misalnya, mereka setuju untuk mendapatkan bagian dari keuntungan yang perusahaan gunakan dari data mereka. Lalu privasi yang terjaga dalam Web3 juga menjadi poin penting bagi konsumen. Bahkan, 79% responden mengaku ingin memiliki kontrol yang lebih besar atas privasi mereka di ranah digital.

Jadi, masa depan Web3 masih memiliki prospek menarik untuk ekosistem internet yang lebih terdesentralisasi, aman, dan berpusat pada pengguna.

Web3 akan mentransformasi berbagai industri, memberdayakan individu, mendefinisikan ulang sistem keuangan, meningkatkan privasi dan kepemilikan data, serta memfasilitasi kolaborasi dalam skala global. Inovasi, kolaborasi, dan adopsi teknologi Web3 yang berkelanjutan akan membentuk jalan menuju visi masa depan ini.

Meski harus berhadapan dengan AI, tetapi poin pentingnya adalah masyarakat pada dasarnya bersedia untuk mengadopsi teknologi yang kompleks, asalkan mereka paham dan mengerti tujuan teknologi tersebut. Jadi, bisa dikatakan, tantangan Web3 ke depannya adalah untuk meningkatkan kesadaran atau awareness serta menyampaikan manfaat dan potensi transformasi digital yang dimiliki Web3.

Leave A Comment