
Bos Telegram Pavel Durov Ditangkap di Prancis, Nasib TON Langsung Anjlok Hingga 20%!
- Fajria Anindya Utami
- August 29, 2024
- News, Crypto
- pavel durov, telegram, TON
- 0 Comments
CEO Telegram Pavel Durov ditangkap di Prancis dan sedang menjalani penyelidikan resmi di negara tersebut. Ia tidak akan diizinkan meninggalkan Prancis karena beberapa dugaan pelanggaran terkait aktivitas kriminal di platform tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis jaksa penuntut Prancis, Durov diduga terlibat dalam transaksi geng illegal yang disebut “pencucian uang hasil kejahatan dalam geng terorganisasi,” serta penolakan untuk menyampaikan informasi kepada pihak berwenang.
Setelah itu, nilai Toncoin, mata uang kripto yang terkait dengan platform Telegram, telah merosot lebih dari 20%. Harga Toncoin telah turun dari sekitar USD6,80 menjadi USD5,42.
Kelompok komunitas resmi blockchain, TON Society mengutuk penangkapan Durov dengan menyebutnya sebagai serangan langsung terhadap hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi. Pernyataan tersebut meminta otoritas Prancis untuk menghormati hak Telegram untuk melindungi kebebasan berekspresi, privasi penggunanya, dan hak atas kehidupan pribadi.
Mengutip CNN di Jakarta, Kamis (29/8/24) Durov harus tetap berada di Prancis, di bawah pengawasan pengadilan dengan jaminan yang ditetapkan sebesar USD5,56 juta (Rp85,6 miliar) dan harus melapor ke kantor polisi Prancis dua kali seminggu.
Durov dibebaskan dari tahanan polisi di Prancis pada hari Selasa kemarin dan dipindahkan ke pengadilan untuk diinterogasi, beberapa hari setelah penangkapannya yang dramatis di bandara Paris.
Penyelidikan Resmi Pavel Durov

Penyelidikan resmi yang diumumkan Rabu malam tidak menyiratkan adanya rasa bersalah dalam sistem hukum Prancis, tetapi jaksa penuntut yakin ada cukup kasus untuk memerlukan penyelidikan resmi yang serius. Ia belum didakwa secara resmi.
Pernyataan kantor kejaksaan pada hari Rabu menambahkan bahwa Kantor Nasional Prancis untuk Anak di Bawah Umur telah melaporkan ke kantor kejaksaan bahwa tidak adanya tanggapan dari Telegram terhadap permintaan pengadilan terkait pelanggaran yang mencakup perdagangan manusia, ujaran kebencian daring, dan kejahatan pedofilia.
Tindakan yang diduga sedang diselidiki termasuk keterlibatan dalam administrasi platform yang memungkinkan transaksi ilegal dalam geng terorganisasi. Pelanggaran tersebut dapat dijatuhi hukuman maksimal 10 tahun penjara.
Pavel Durov Ditangkap di Bandara Paris

Pavel Durov (39) ditangkap di Bandara Bourget, Paris, pada hari Sabtu atas surat perintah terkait kurangnya moderasi Telegram. Ia diselidiki atas tuduhan terkait sejumlah kejahatan, termasuk tuduhan bahwa platformnya terlibat dalam membantu penipu, pengedar narkoba, dan orang-orang yang menyebarkan pornografi anak.
Telegram dianggap kurang memoderasi kontennya sehingga membuatnya menjadi sasaran pengawasan karena digunakan oleh kelompok teroris dan ekstremis sayap kanan.
Pavel Durov ditahan hingga 96 jam, jumlah waktu maksimum seseorang dapat ditahan menurut hukum Prancis sebelum didakwa.
Penangkapan Durov memicu pertikaian tentang kebebasan berbicara, dan menimbulkan kekhawatiran khusus di Ukraina dan Rusia, di mana kebebasan berbicara sangat populer dan telah menjadi alat komunikasi utama di antara personel militer dan warga negara selama perang Moskow dengan negara tetangganya.
Rusia mengecam Paris atas penahanannya terhadap Pavel Durov. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova sampai buka suara.
“Bagi saya, semua ini sekali lagi menunjukkan sikap sejati para pemimpin Prancis, yang secara terang-terangan telah menginjak-injak norma-norma internasional di bidang perlindungan kebebasan berbicara dan berekspresi, hanya karena satu alasan – karena jika mereka melindungi standar-standar tertentu, mereka tidak hanya harus mematuhinya, mereka juga harus melindungi dan menerapkannya,” tutur Zakhrova.
Kremlin telah berupaya meredakan kekhawatiran di Rusia tentang masa depan aplikasi tersebut, dengan juru bicara pemerintah Rusia Dmitry Peskov berusaha menghilangkan seruan bagi para pengguna untuk menghapus pesan-pesan sensitif mereka di aplikasi tersebut.
Presiden Prancis Menyangkal Ada Agenda Politik di Dalamnya

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa keputusan untuk mengajukan tuntutan terhadap Durov sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatanpolitis. Langkah Macron merupakan sebuah intervensi langka oleh seorang pemimpin Prancis ke dalam masalah hukum.
Sebagaimana diketahui, Telegram diluncurkan pada tahun 2013 oleh Pavel Durov dan saudaranya, Nikolai. Aplikasi tersebut sekarang memiliki lebih dari 950 juta pengguna, menurut sebuah posting dari Durov bulan lalu, menjadikannya salah satu platform pengiriman pesan yang paling banyak digunakan di dunia.
Percakapan di aplikasi tersebut dienkripsi, di mana itu berarti bahwa lembaga penegak hukum dan Telegram sendiri memiliki sedikit pengawasan terhadap apa yang diunggah pengguna.
Profil Singkat Pavel Durov

Durov lahir di Uni Soviet atau Rusia pada tahun 1984. Di usia 20-an, ia dikenal sebagai “Mark Zuckerberg dari Rusia.” Ia meninggalkan negara itu pada tahun 2014 dan sekarang tinggal di Dubai, tempat kantor pusat Telegram berada, ia juga memegang kewarganegaraan Prancis.
Kekayaannya diperkirakan mencapai USD9,15 miliar (Rp140 triliun), menurut Bloomberg. Ia telah mempertahankan gaya hidup mewah dan berkeliling dunia selama dekade terakhir.
Namun, meskipun aplikasinya telah mendapat pujian dari kelompok kebebasan berbicara dan memungkinkan komunikasi pribadi di negara-negara dengan rezim yang ketat, para kritikus mengatakan bahwa aplikasi tersebut telah menjadi tempat yang aman bagi orang-orang yang mengoordinasikan kegiatan terlarang – termasuk teroris yang merencanakan serangan teror Paris pada bulan November 2015.


Leave A Comment