
5 Kasus Peretasan Kripto Terbesar dalam Sejarah
- Fajria Anindya Utami
- February 22, 2025
- Crypto
- hacker, kripto, peretasan kripto
- 0 Comments
Bursa mata uang kripto Bybit mengalami peretasan kripto besar-besaran pada 21 Februari, dengan kerugian mencapai lebih dari $1,4 miliar. Insiden ini menjadi peretasan tunggal terbesar dalam sejarah industri kripto yang telah berjalan selama 15 tahun. Menurut data dari Cyvers, jumlah yang dicuri dalam serangan ini mencakup lebih dari 60% dari total dana kripto yang hilang sepanjang tahun 2024.
Serangan siber dan kasus penipuan telah menjadi bagian dari dunia kripto, menciptakan tantangan besar dalam membangun legitimasi industri ini. Beberapa pihak menilai bahwa sektor ini terlalu sering dijadikan kambing hitam karena dianggap “memfasilitasi kejahatan.” Namun, menurut data Chainalysis, penggunaan kripto secara legal terus bertumbuh jauh lebih cepat dibandingkan aktivitas ilegal. Meskipun demikian, peretasan di dunia kripto tetap marak, terutama saat harga aset digital mengalami lonjakan. Pada pertengahan 2024, total kerugian akibat peretasan kripto telah mencapai angka mencengangkan, yaitu $19 miliar.
Peretasan Kripto Terbesar dalam Sejarah
Berikut adalah beberapa peretasan terbesar yang pernah terjadi dalam dunia kripto, sebelum akhirnya dikalahkan oleh eksploitasi besar-besaran terhadap Bybit.
1. Ronin Network (Maret 2022)

Sumber/Pintu
Sebelum kasus Bybit, peretasan kripto terbesar terjadi pada Ronin Network, sidechain Ethereum yang digunakan dalam permainan play-to-earn Axie Infinity. Peretas berhasil mencuri lebih dari $600 juta dalam bentuk Ether dan USD Coin. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari dana yang berhasil dikembalikan.
Serangan ini dikaitkan dengan Lazarus Group, sebuah kelompok yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah Korea Utara. Lazarus Group diperkirakan telah mencuri kripto senilai $1,34 miliar hanya dalam tahun 2024.
“Sejak tahun 2020, mereka telah mencuci aset digital senilai ratusan juta dolar,” ungkap seorang analis keamanan siber.
2. Poly Network (Agustus 2021)

Sumber/PYMNTS
Pada tahun 2021, protokol lintas rantai Poly Network mengalami eksploitasi besar-besaran yang mengakibatkan kehilangan dana lebih dari $600 juta. Firma keamanan siber SlowMist menggambarkan serangan ini sebagai aksi yang “terencana dan terorganisir sejak lama.”
Dana yang dicuri terdiri dari $273 juta dari Ethereum, $253 juta dari BNB Smart Chain, dan $85 juta dari jaringan Polygon. Peretas akhirnya mengembalikan hampir semua dana, kecuali $33 juta.
3. Binance BNB Bridge (Oktober 2022)

Jembatan lintas rantai milik Binance, BNB Chain, diretas hingga kerugian mencapai sekitar $568 juta. Peretasan kripto ini mengeksploitasi celah pada BSC Token Hub untuk mencetak 2 juta BNB secara ilegal dan segera memindahkan $100 juta ke jaringan lain.
Changpeng Zhao, mantan CEO Binance, mengonfirmasi bahwa eksploitasi ini menghasilkan BNB tambahan yang tidak sah. “Kami segera menghentikan sementara BNB Smart Chain untuk mengatasi masalah ini,” jelasnya.
4. Coincheck (Januari 2018)

Salah satu peretasan kripto terbesar di awal industri kripto terjadi pada tahun 2018 ketika bursa Jepang Coincheck kehilangan dana senilai $534 juta dalam bentuk token NEM (XEM). Token ini merupakan bagian dari proyek Gerakan Ekonomi Baru (NEM) yang kini dianggap sudah mati.
Peretasan kripto ini memanfaatkan kelemahan pada dompet panas bursa, memungkinkan mereka untuk mentransfer dana dalam jumlah besar secara ilegal. Serangan ini diduga berasal dari kelompok peretas yang memasang malware di komputer karyawan Coincheck.
Pihak bursa kemudian berjanji untuk mengganti rugi semua korban, sekitar 260.000 pengguna. Menurut laporan BBC, seluruh dana akhirnya dikembalikan.
5. FTX (November 2022)

Ketika bursa FTX runtuh pada November 2022, serangkaian transaksi tidak sah menguras dana sebesar $477 juta. Pada Januari 2023, FTX mengungkapkan bahwa $415 juta dari dana tersebut dikategorikan sebagai “kripto yang diretas.”
Mantan CEO FTX, Sam Bankman-Fried, menduga bahwa serangan ini dilakukan oleh orang dalam atau seseorang yang memasang malware di komputer salah satu mantan karyawan. “Saya sempat mempersempit daftar tersangka menjadi delapan orang sebelum akhirnya kehilangan akses ke sistem perusahaan,” ujarnya.
Namun, pada Januari 2024, jaksa federal AS berhasil mengidentifikasi dan mendakwa tiga individu yang diduga bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kasus peretasan Bybit telah mengguncang dunia kripto, mencetak rekor sebagai eksploitasi terbesar yang pernah terjadi. Dengan meningkatnya harga aset digital, ekonomi peretasan terus berkembang, menimbulkan tantangan besar bagi regulator dan pelaku industri untuk memperkuat keamanan ekosistem kripto. Meskipun demikian, inovasi di sektor ini terus berkembang, membuktikan bahwa teknologi blockchain bukan hanya tentang spekulasi, tetapi juga masa depan keuangan digital yang lebih aman dan transparan.


Leave A Comment