korea selatan

Saham Tak Menjanjikan, Kripto Jadi Pelarian Anak Muda di Korea Selatan!

Lonjakan minat terhadap mata uang kripto di Korea Selatan selama beberapa tahun terakhir telah memikat perhatian dunia. Namun, di balik grafik kenaikan harga dan volume transaksi yang melonjak, ternyata ada kisah yang lebih kelam dan kompleks: dorongan ekonomi yang diliputi keputusasaan, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut data per akhir Maret 2025, jumlah pengguna platform perdagangan kripto di Korea Selatan telah menembus angka 16 juta. Ini berarti lebih dari 30% populasi negara tersebut telah terlibat dalam dunia aset digital. Salah satu pendorong utama lonjakan ini adalah efek domino dari kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS pada November lalu, yang menciptakan gejolak dan peluang spekulatif di pasar global.

Namun, dalam forum German Blockchain Week baru-baru ini, Eli Ilha Yune, Kepala Produk di perusahaan rintisan kuantum-machine learning Anzaetek, mengungkapkan bahwa antusiasme terhadap kripto di Korea Selatan tidak didorong oleh kepercayaan pada teknologi blockchain atau ideologi Web3 sebagaimana yang sering terjadi di negara-negara Barat.

“Di Korea Selatan, motivasi utamanya bukan soal kepercayaan terhadap Web3,” ujar Yune dalam diskusi panel bertajuk Asia Insights. “Sebaliknya, ini lebih didorong oleh keputusasaan ekonomi generasi muda yang ingin mencari uang cepat.”

Realitas Ekonomi yang Suram untuk Generasi Muda

Altcoin / korea selatan
Altcoin

Kondisi ekonomi generasi muda di Korea Selatan memang mengkhawatirkan. Negara yang selama bertahun-tahun dikenal dengan pertumbuhan ekonomi pesat kini menghadapi tantangan struktural yang membuat peluang kerja dan mobilitas sosial semakin sempit.

Tingkat pengangguran untuk kelompok usia 15 hingga 29 tahun mencapai 6,6% pada Mei 2025, lebih dari dua kali lipat dari tingkat pengangguran nasional yang tercatat hanya 2,7%. Meski terdengar rendah dibanding standar global, angka tersebut tetap menjadi sorotan di negara yang memiliki budaya kerja kompetitif dan tekanan sosial tinggi terhadap kesuksesan finansial sejak usia muda.

Sementara itu, harga properti di kota-kota besar seperti Seoul telah melonjak tak terkendali. Dalam lima tahun terakhir, harga rata-rata apartemen di ibu kota Korea Selatan telah meningkat dua kali lipat dan kini melebihi 1 miliar won (sekitar USD 689.000). Rasio harga rumah terhadap pendapatan pun melonjak ke angka 15,2, menandakan bahwa bagi banyak orang, mimpi memiliki rumah semakin menjauh dari jangkauan.

Yune menambahkan, “Anak muda Korea Selatan tidak bisa membeli rumah, bahkan menyewa pun sulit. Jadi mereka berpaling ke kripto karena itu satu-satunya tempat mereka merasa punya peluang.”

Saham Tak Menjanjikan, Kripto Jadi Pelarian

prediksi Bitcoin pensiun
Cointelegraph/Bitcoin

Menurut Yune, investasi saham adalah pilihan pertama yang dipertimbangkan banyak anak muda. Namun, dalam kondisi ekonomi saat ini, saham tidak lagi terlihat menjanjikan. “Mereka tidak melihat banyak keuntungan di sana,” ungkapnya.

Sementara kripto, dengan volatilitasnya yang tinggi, justru memberi harapan akan ‘cuan instan’. Terlepas dari risikonya, banyak generasi muda yang terjun ke dalam dunia aset digital tanpa pemahaman mendalam. Yune menegaskan bahwa banyak investor muda di Korea bahkan tidak menyadari infrastruktur atau teknologi yang mendasari sistem kripto.

“Tentu saja ada pengecualian. Tapi mayoritas hanya melihat kripto sebagai jalan keluar ekonomi jangka pendek, bukan sebagai gerakan teknologi jangka panjang,” ujarnya.

Situasi ini tidak luput dari perhatian pemerintah Korea Selatan. Presiden baru, Lee Jae-myung, telah menunjukkan langkah proaktif dalam merespons fenomena kripto. Ia bergerak cepat untuk mewujudkan janji kampanyenya, yakni mengintegrasikan aset digital ke dalam sistem keuangan resmi.

Beberapa kebijakan yang mulai dibicarakan termasuk dukungan terhadap penerbitan stablecoin domestik berbasis won Korea. Bahkan, Gubernur Bank Sentral Korea Selatan menyatakan bahwa dirinya tidak menentang gagasan penerbitan stablecoin nasional, sebuah sinyal bahwa kripto akan menjadi bagian dari peta kebijakan ekonomi negara.

Laporan: Orang Kaya Muda di Korea Selatan Pegang Kripto Tiga Kali Lebih Banyak

roadmap OJK

Laporan Korean Wealth Report 2025 juga memperkuat temuan ini. Disebutkan bahwa kalangan “orang kaya muda” yakni individu berusia di bawah 45 tahun dengan kekayaan tinggi. Mereka memegang aset kripto tiga kali lebih banyak dibandingkan orang kaya usia di atas 45 tahun. Selain itu, sekitar 34% individu dengan kekayaan bersih tinggi di Korea Selatan telah memiliki kripto sebagai bagian dari portofolio investasinya.

Namun kembali lagi, Yune mengingatkan bahwa ini bukan karena mereka percaya pada masa depan blockchain atau Web3, melainkan karena keterdesakan ekonomi yang memaksa mereka untuk mengambil risiko besar dalam waktu singkat.

Meningkatnya minat terhadap mata uang kripto di Korea Selatan bukan sekadar fenomena teknologi atau tren keuangan. Di balik layar, ini adalah cermin dari ketimpangan ekonomi, krisis properti, dan harapan yang menipis di kalangan generasi muda. Kripto menjadi simbol pelarian dan perlawanan, bukan optimisme, melainkan bentuk keputusasaan terhadap sistem yang tidak lagi berpihak pada mereka.

Leave A Comment