
Perang Dagang AS Bisa Picu Lonjakan Bitcoin?
- Fajria Anindya Utami
- April 6, 2025
- Crypto
- bitcoin, donald trump, perang dagang
- 0 Comments
Perang dagang yang dilakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, diperkirakan bisa memicu kekacauan ekonomi global dan krisis keuangan dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, kondisi ini justru bisa membuat Bitcoin semakin banyak digunakan sebagai tempat menyimpan nilai kekayaan, menurut analis dari perusahaan investasi Bitwise, Jeff Park.
Menurut Park, perang dagang antarnegara akan membuat ekonomi dunia jadi tidak stabil. Akibatnya, banyak negara akan mengambil kebijakan keuangan yang bisa menyebabkan inflasi. Ketika inflasi naik dan mata uang jadi melemah, masyarakat akan mencari cara lain untuk menyimpan kekayaan mereka. Salah satu pilihannya adalah Bitcoin.

“Perang dagang akan membuat pemerintah menerapkan kebijakan yang membuat nilai uang turun. Karena itu, orang-orang akan mencari tempat penyimpanan nilai yang lebih aman, seperti Bitcoin,” kata Park.
Dalam unggahan di platform X pada 2 Februari, Park juga mengatakan bahwa dampak langsung dari perang dagang akan terasa di Amerika Serikat dan negara mitranya.
“Biaya tarif, kemungkinan besar lewat inflasi yang lebih tinggi, akan ditanggung oleh AS dan mitra dagangnya. Tapi dampaknya akan jauh lebih berat bagi negara lain. Mereka harus mencari cara agar pertumbuhan ekonominya tidak semakin lemah,” tulisnya.
Park meyakini bahwa meskipun kondisi ekonomi global akan terguncang dalam waktu dekat, permintaan terhadap Bitcoin akan terus meningkat. Dan dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat harga Bitcoin naik tajam.
Dampak Perang Dagang

Ekonom terkenal dan pendiri perusahaan investasi Bridgewater Associates, Ray Dalio, juga menyuarakan kekhawatiran yang sama. Dalam unggahan di X pada 2 April, ia menyebut bahwa kebijakan tarif bersifat “stagflasi bagi dunia secara keseluruhan.”
Artinya, tarif bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang melambat (stagnasi), tapi di saat yang sama harga-harga juga naik (inflasi). Dalio menjelaskan, tarif bisa menekan produsen barang di satu sisi, dan menaikkan harga di negara pengimpor.
“Jika tarif perdagangan ini memicu perang dagang besar, dampaknya akan sangat buruk bagi seluruh dunia,” kata Dalio.
Ia juga memperingatkan bahwa utang negara yang tinggi dan ketidakseimbangan perdagangan bisa mempercepat perubahan besar dalam sistem keuangan global yang selama ini sudah mapan.
Risiko Resesi dan Ketidakpastian Ekonomi

Pendiri Coin Bureau dan analis pasar, Nic Puckrin, juga menyatakan keprihatinannya terhadap kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionis. Dalam wawancara dengan Cointelegraph, ia mengatakan:
“Kalau kebijakan tarif ini berkembang menjadi perang dagang besar-besaran, hasilnya bisa sangat buruk bagi ekonomi dunia.”
Menurutnya, ada peluang sekitar 40% bahwa ekonomi Amerika Serikat bisa mengalami resesi pada tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh perang dagang yang berkepanjangan dan ketidakpastian kebijakan ekonomi.
Meski banyak pihak khawatir dengan dampak negatif kebijakan ini, ada juga yang melihat peluang jangka panjang. Salah satunya adalah Anthony Pompliano, seorang manajer aset dan pendukung Bitcoin yang cukup vokal.
Ia menduga pemerintah AS sengaja membuat tekanan di pasar modal agar suku bunga bisa diturunkan. Tujuannya adalah untuk meringankan beban pembayaran utang negara.
Pompliano mencatat bahwa bunga obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun telah turun, dari sekitar 4,66% di bulan Januari menjadi sekitar 4,00% saat ini. Ini bisa menjadi tanda bahwa pasar mengantisipasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
“Memang, kebijakan ini akan menimbulkan rasa sakit dalam jangka pendek. Tapi kalau suku bunga diturunkan, biaya pinjaman akan lebih murah, orang jadi lebih banyak meminjam dan berinvestasi. Dalam jangka panjang, ini bisa mendorong naiknya harga aset, termasuk Bitcoin,” jelas Pompliano.
Meski masa depan ekonomi global terlihat penuh tantangan, beberapa analis percaya bahwa kondisi ini justru membuka jalan bagi Bitcoin untuk semakin diterima sebagai alat penyimpan nilai yang andal.


Leave A Comment