Tingkat Literasi Komunitas Kripto Masih Sangat Rendah, Dan Ini Berbahaya

Sebuah laporan dari PiP World menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan komunitas kripto masih sangat rendah. Bahkan survey tersebut menyatakan bahwa hasilnya ‘sangat rendah’ hingga jauh tertinggal dari rata-rata literasi keuangan masyarakat Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini mengundang perhatian para ahli yang menyebutkan bahwa literasi keuangan dasar adalah elemen penting dalam menciptakan stabilitas pasar kripto. Tanpa pengetahuan keuangan yang memadai, pengguna kripto cenderung panik selama penurunan pasar.

Sebaliknya, komunitas yang lebih melek finansial dapat membantu mengurangi volatilitas kronis dalam ekosistem kripto. Santiago Carbo-Valverde, profesor ekonomi di Universitat de València, menyatakan, kurangnya literasi keuangan dapat mendistorsi ekspektasi dan bias.

“Ini dapat menyebabkan individu salah menafsirkan sinyal pasar, melebih-lebihkan keuntungan, dan meremehkan risiko,” tuturnya sebagaimana dikutip dari Cointelegraph di Jakarta, Kamis (12/12/24)

Carbo-Valverde melanjutkan, kesalahpahaman semacam ini sering menyebabkan reaksi berlebihan dalam perdagangan aset kripto.

“Pada akhirnya, hal ini memperkuat volatilitas pasar dan dapat berkontribusi pada pembentukan gelembung kripto,” ujarnya. Menariknya, penelitian yang melibatkan 2.121 responden survei ini juga menemukan bahwa rasa percaya diri berlebihan (bias kognitif) signifikan memengaruhi kepemilikan mata uang kripto. “Individu yang merasa lebih tahu daripada kenyataan sebenarnya lebih cenderung memiliki kripto,” tambahnya.

Rendahnya Literasi Secara Global, Bukan Hanya di AS

Carbo-Valverde menekankan bahwa tren ini bukan hanya fenomena di Amerika Serikat, tetapi di berbagai wilayah geografis. Misalnya, sebuah makalah Maret 2024 yang diterbitkan di Journal of Financial Literacy and Wellbeing mengungkapkan bahwa sebagian besar pemilik Bitcoin di Kanada memiliki literasi keuangan rendah.

Data ini diperoleh dari survei Bitcoin Bank of Canada menggunakan pertanyaan “Tiga Besar” yang dirancang oleh Annamaria Lusardi dan Olivia Mitchell dari Wharton School. Penelitian ini juga menunjukkan adanya kesenjangan gender dalam literasi kripto, di mana perempuan lebih tertinggal dibandingkan laki-laki.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan temuan ini. Michael Jones, direktur Lab Kriptoekonomi Universitas Cincinnati, menyebutkan bahwa pemilik kripto justru mencetak skor lebih tinggi dalam literasi keuangan dibandingkan dengan non-pemilik.

“Pemilik kripto rata-rata mencetak skor 4,1 dari 5, dibandingkan non-pemilik yang hanya mencetak 3,7,” ujarnya. Jones menambahkan bahwa pemilik kripto sering kali memiliki motivasi untuk memahami lebih dalam sektor keuangan tradisional. “Adopsi kripto bisa menjadi sarana efektif meningkatkan literasi keuangan,” tambahnya.

Tak hanya itu, Saad Naja, CEO PiP World, mengaitkan perbedaan hasil ini dengan perbedaan metodologi.

“Universitas Cincinnati tampaknya mengukur literasi keuangan secara umum, sementara kami menyelami komunitas kripto secara spesifik,” jelasnya.

Naja menambahkan bahwa banyak pengguna kripto memiliki pemahaman teknis yang baik tentang blockchain tetapi kesulitan dengan konsep dasar seperti diversifikasi dan manajemen risiko. “Antusiasme terhadap teknologi tidak selalu berarti pengambilan keputusan keuangan yang baik,” tegasnya.

Dampak Literasi pada Volatilitas Pasar Kripto

literasi kripto
Cryptocurrency

Beberapa ahli percaya bahwa basis pengguna yang lebih melek finansial dapat mengurangi fluktuasi harga yang liar di pasar kripto. Kadan Stadelmann, CTO Komodo, mengatakan bahwa investor ritel yang tidak memiliki informasi sering kali menjadi korban skema “pump-and-dump.”

“Memahami fundamental ekonomi jangka panjang seperti Bitcoin dapat mendorong investor untuk tetap tenang saat harga turun,” tambah Neil Bergquist, CEO Coinme. Hal ini, menurutnya, dapat memperkuat stabilitas pasar.

Namun, keberadaan penasihat keuangan dan produk seperti dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) mungkin mengurangi urgensi literasi finansial. Meski begitu, Stadelmann mengingatkan bahwa literasi keuangan tetap penting, terutama bagi mereka yang terlibat aktif dalam DeFi atau perdagangan.

Laporan Oktober oleh IOSCO (Organisasi Internasional Komisi Sekuritas) mencatat bahwa banyak calon investor menggunakan media sosial sebagai sumber informasi utama.

“Media sosial sering kali memperkuat misinformasi dan perilaku berkelompok,” kata Carbo-Valverde. Neil Bergquist juga menyoroti risiko dari penipuan yang menyasar pengguna media sosial. “Pendidikan dan pemikiran kritis terkait investasi dapat mengurangi risiko ini,” ujarnya.

Pentingnya Pendidikan untuk Literasi Keuangan

litersi kripto / dogecoin
Dogecoin

Jika komunitas kripto ingin mencapai adopsi arus utama, pendidikan keuangan harus menjadi prioritas utama.

“Industri ini perlu menyederhanakan pengalaman pengguna dan menyediakan pendidikan yang mudah diakses,” kata Bergquist. Saad Naja mengusulkan integrasi sumber daya pendidikan dalam aplikasi dompet dan platform bursa. “Platform pembelajaran gamifikasi atau kalkulator risiko dapat membantu menjembatani kesenjangan pengetahuan,” tambahnya.

Secara keseluruhan, pendidikan yang lebih luas dapat menciptakan stabilitas pasar dan adopsi yang bertanggung jawab. Stadelmann menyimpulkan bahwa industri harus memprioritaskan pendidikan untuk memastikan investor memahami dasar-dasar, risiko, dan peluang dalam kripto.

Leave A Comment