Tiongkok Kaji Stablecoin Yuan Demi Strategi Global dan Domestik

Reuters melaporkan pada hari Rabu bahwa Tiongkok sedang mempertimbangkan untuk menyetujui stablecoin yang dipatok renminbi (RMB) sebagai bagian dari peta jalan untuk mendorong internasionalisasi mata uang nasionalnya. Ini merupakan kali kedua dalam bulan Agustus muncul kabar serupa, setelah Financial Times pada 5 Agustus mengabarkan hal yang sama. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang Tiongkok mengenai rencana tersebut.

Meskipun wacana ini semakin sering muncul, banyak analis menekankan bahwa jika Tiongkok benar-benar mengambil langkah maju, stablecoin tersebut kemungkinan besar akan diluncurkan di luar negeri, bukan di daratan Tiongkok.

CNY vs CNH: Dua Wajah Yuan Tiongkok

tiongkok

Untuk memahami konteksnya, penting melihat bahwa mata uang Tiongkok sebenarnya beroperasi di dua pasar berbeda: yuan domestik (CNY) dan yuan luar negeri (CNH).

  • CNY beredar di daratan Tiongkok dan berada di bawah pengendalian modal yang sangat ketat. Artinya, arus keluar-masuk dana dalam bentuk CNY diawasi dengan saksama oleh otoritas keuangan.
  • CNH, di sisi lain, diperdagangkan di luar negeri, terutama di Hong Kong, dan lebih bebas bergerak.

Kedua mata uang ini secara teknis sama, tetapi harga pasar mereka bisa berbeda. Jika sentimen global terhadap ekonomi Tiongkok melemah, CNH dapat diperdagangkan lebih lemah dibanding CNY. Sebaliknya, jika permintaan asing terhadap aset Tiongkok meningkat, CNH bisa lebih kuat.

Dengan kondisi ini, analis memperkirakan bahwa stablecoin berbasis yuan hampir pasti akan dikaitkan dengan CNH, bukan CNY. Penerbitan stablecoin berbasis CNY di dalam negeri akan bertentangan dengan kebijakan pengendalian modal Beijing.

Joshua Chu, ketua Asosiasi Web3 Hong Kong, menegaskan hal ini:
“Berita tentang stablecoin RMB kemungkinan besar benar adanya, tetapi jangan berharap akan beredar di Tiongkok daratan. Paling mungkin, stablecoin tersebut akan lahir di pasar luar negeri.”

Hong Kong: Jembatan Uji Coba Stablecoin

Hong Kong Paling Siap untuk Kripto 2022
Gambar: PYMNTS.com

Jika bicara tentang pasar luar negeri, Hong Kong menempati posisi strategis. Kota ini sejak lama menjadi pusat keuangan bagi CNH offshore, khususnya sejak 2010 ketika Beijing memperluas skema penyelesaian perdagangan lintas batas menggunakan RMB.

Hong Kong dikenal sebagai pelopor penerbitan obligasi dim sum (obligasi berdenominasi yuan offshore) dan menjadi pasar likuiditas CNH terbesar di dunia. Selain itu, Hong Kong kini memiliki kerangka regulasi kripto dan stablecoin yang jelas. Sejak 1 Agustus 2025, aturan stablecoin baru di kota ini resmi berlaku dan mewajibkan setiap penerbit untuk mendapatkan lisensi resmi.

Winston Ma, profesor di Universitas New York dan mantan direktur di China Investment Corporation, menilai bahwa Hong Kong adalah lokasi paling ideal bagi Tiongkok untuk melakukan eksperimen stablecoin.
“Hong Kong berada dalam posisi unik untuk menguji CBDC (e-CNY) dan stablecoin yang terkait RMB. Dari sini, Beijing bisa memperluas jangkauan yuan tanpa harus melonggarkan kontrol di dalam negeri,” ujarnya.

Ancaman Dominasi Dolar dan Lahirnya Alternatif Yuan

donald trump
Donald Trump

Latar belakang lain yang mendorong Tiongkok mempertimbangkan stablecoin adalah dominan­nya dolar AS di pasar stablecoin global. Saat ini, Tether (USDT) dan USDC dari Circle menguasai hampir seluruh pasar dengan kapitalisasi gabungan lebih dari $230 miliar.

Undang-Undang GENIUS yang baru ditandatangani Presiden AS Donald Trump pada Juli lalu memperkuat dominasi ini. Regulasi tersebut mewajibkan setiap stablecoin dolar memiliki cadangan penuh dalam bentuk aset likuid seperti obligasi pemerintah AS. Dengan begitu, permintaan global terhadap US Treasury akan semakin besar.

Para akademisi Tiongkok sudah lama memperingatkan bahwa dominasi stablecoin dolar bisa melemahkan kedaulatan finansial Tiongkok. Zhang Monan, wakil kepala Institut Studi Amerika dan Eropa di Pusat Pertukaran Ekonomi Internasional, baru-baru ini menegaskan bahwa Undang-Undang GENIUS semakin memperkuat posisi dolar. Namun, ia juga menilai kerangka stablecoin Hong Kong dapat membuka peluang bagi stablecoin RMB untuk menjadi penyeimbang.

Skala CNH Masih Terbatas

Meski peluangnya besar, tantangan tetap ada. Skala pasar CNH masih relatif kecil jika dibandingkan dengan sistem keuangan global. Data terbaru menunjukkan bahwa pada akhir Juni, simpanan CNH di Hong Kong hanya sekitar 0,88 triliun yuan, setara dengan 0,27% dari total pasokan uang beredar di daratan Tiongkok yang mencapai 329,94 triliun yuan.

Joshua Chu menekankan, “Stablecoin CNH sangat mungkin lahir dengan kerangka regulasi Hong Kong. Namun, skalanya mungkin tidak sebanding dengan stablecoin global besar seperti USDT dan USDC.”

Dengan kata lain, meskipun stablecoin CNH dapat menjadi alat strategis bagi Tiongkok dalam memperluas pengaruh yuan, dampaknya terhadap pasar kripto global dalam jangka pendek mungkin terbatas.

Pada akhirnya, dorongan Beijing untuk mengembangkan stablecoin bukan hanya soal memenuhi permintaan pasar kripto ritel. Lebih dari itu, langkah ini adalah strategi geopolitik finansial untuk menantang dominasi dolar dan memperkuat posisi RMB dalam sistem keuangan digital global.

Di sisi domestik, Beijing tetap berfokus pada pengembangan e-CNY, mata uang digital bank sentral yang sudah diuji coba oleh ratusan juta pengguna. Stablecoin RMB, jika lahir, kemungkinan besar akan menjadi instrumen pelengkap yang beroperasi di luar negeri, dengan Hong Kong sebagai pintu utama.

Dengan demikian, inisiatif stablecoin ini bisa dipandang sebagai perpanjangan tangan yuan: memperluas jangkauan global tanpa harus melepaskan kontrol ketat di dalam negeri.

Leave A Comment