yuan stablecoin

Tiongkok Pertimbangkan Stablecoin Yuan: Perubahan Besar dalam Kebijakan Kripto

Tiongkok, yang selama ini dikenal paling ketat terhadap aset kripto, dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah penerbitan stablecoin yuan. Jika benar-benar terealisasi, kebijakan ini akan menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam pendekatan Tiongkok terhadap dunia kripto sejak melarang perdagangan dan penambangan mata uang digital pada September 2021.

Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber internal, otoritas Tiongkok sedang meninjau rencana penggunaan stablecoin berbasis yuan untuk mendorong adopsi mata uang nasionalnya di kancah global. Rencana ini kabarnya akan dibawa ke Dewan Negara Tiongkok pada akhir Agustus 2025 untuk ditinjau lebih lanjut dan berpotensi disetujui.

Penerapan dalam Sistem Pembayaran Internasional

stablecoin yuan

Sejak 2021, Tiongkok secara resmi melarang aktivitas perdagangan maupun penambangan aset kripto, dengan alasan risiko finansial, konsumsi energi, dan potensi kriminalitas. Namun, negara tersebut tetap aktif mengembangkan yuan digital (e-CNY) sebagai alternatif resmi yang sepenuhnya dikendalikan bank sentral.

Meskipun yuan digital telah digunakan dalam beberapa uji coba domestik, adopsi lintas batas masih terbatas. Kini, stablecoin berbasis yuan dapat menjadi instrumen baru untuk mempercepat globalisasi mata uang Tiongkok, terutama dalam perdagangan internasional.

Sumber Reuters menyebutkan bahwa salah satu skenario utama penerapan stablecoin yuan adalah penggunaannya dalam perdagangan lintas batas. Dengan demikian, perusahaan di negara-negara mitra dagang dapat melakukan pembayaran menggunakan stablecoin yang nilainya stabil terhadap yuan, tanpa harus bergantung pada dolar AS atau euro.

Langkah ini akan menjadi bagian dari strategi besar Tiongkok untuk menyaingi dominasi dolar dalam sistem pembayaran global. Bahkan, isu ini diperkirakan akan menjadi salah satu agenda pembahasan utama dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang digelar pada 31 Agustus hingga 1 September di Tianjin.

Dua wilayah, yakni Shanghai dan Hong Kong, disebut sebagai prioritas pusat penerapan kebijakan ini. Hong Kong sendiri sudah meluncurkan kerangka regulasi untuk stablecoin pada awal Agustus 2025, sehingga berpotensi menjadi jembatan uji coba bagi penerapan stablecoin yuan.

Posisi Yuan di Pasar Global

Saat ini, yuan Tiongkok masih jauh tertinggal dibanding dolar AS maupun euro dalam sistem pembayaran global. Berdasarkan data RMB Tracker milik Swift per Juni 2025, yuan hanya menempati posisi keenam dengan pangsa 2,9% dari total pembayaran global berdasarkan nilai transaksi.

Sebagai perbandingan, dolar AS menguasai hampir setengah pasar pembayaran global, yaitu sekitar 47,2%. Dominasi dolar bahkan lebih kuat di sektor stablecoin, di mana token berbasis dolar mendominasi 98% kapitalisasi pasar stablecoin global yang bernilai sekitar USD 288 miliar, menurut data CoinMarketCap.

Dengan kondisi ini, masuknya Tiongkok ke pasar stablecoin jelas bukan hanya soal inovasi teknologi, melainkan juga strategi geopolitik dan ekonomi untuk memperluas pengaruh yuan.

Tantangan: Menghadapi Dominasi Dolar

Dua Koin Crypto yang Menjanjikan di Tahun 2022
Ilustrasi koin crypto. (Gambar: Zipmex)

Langkah Tiongkok ini juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, khususnya kebijakan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump baru-baru ini berjanji untuk memperkuat peran dolar dalam sistem keuangan internasional dengan mendorong stablecoin berbasis dolar.

Hal ini memicu kekhawatiran di banyak yurisdiksi, termasuk Tiongkok, bahwa dominasi dolar bisa semakin mengakar melalui pasar stablecoin. Oleh karena itu, stablecoin yuan dipandang sebagai alat untuk melawan hegemoni dolar serta membuka alternatif bagi negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada mata uang AS.

Sikap resmi Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) mulai melunak terhadap teknologi stablecoin. Pada Juni 2025, seorang pejabat senior PBOC menyebut stablecoin sebagai inovasi yang berpotensi transformatif bagi sistem pembayaran global, meski tetap menekankan perlunya regulasi ketat.

Bahkan, Gubernur PBOC Pan Gongsheng sebelumnya sudah menekankan pentingnya “mengurangi ketergantungan pada mata uang tunggal berdaulat” dan memperkuat peran yuan dalam perdagangan internasional. Dengan demikian, stablecoin yuan bisa dipandang sebagai pelengkap dari yuan digital, bukan pesaingnya.

Menariknya, pada Juli lalu, Conflux, salah satu platform blockchain lokal, telah meluncurkan stablecoin yang didukung oleh yuan lepas pantai. Ini bisa menjadi prototipe bagi penerbitan stablecoin resmi dengan dukungan pemerintah.

Prospek ke Depan

Jika stablecoin yuan benar-benar diizinkan, dampaknya akan terasa luas. Bagi sektor perdagangan internasional, stablecoin ini bisa memudahkan transaksi dengan biaya rendah dan proses yang lebih cepat. Negara-negara mitra dagang Tiongkok di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin mungkin akan menjadi pengguna awal.

Namun, tantangan besar tetap menanti. Regulasi ketat, masalah kepercayaan pasar, serta persaingan dengan stablecoin berbasis dolar akan menentukan apakah stablecoin yuan bisa berkembang. Di sisi lain, penerapan stablecoin juga harus menjaga stabilitas keuangan domestik agar tidak menciptakan celah baru untuk spekulasi.

Bagi Tiongkok, stablecoin yuan bukan sekadar eksperimen teknologi, tetapi bagian dari strategi besar: menjadikan yuan sebagai mata uang global yang dapat menandingi dolar AS. Jika berhasil, dunia keuangan mungkin akan menyaksikan perubahan peta kekuatan moneter internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Leave A Comment