
Transaksi Kripto Turun Tajam di Februari 2025, OJK Ungkap Penyebabnya
- Fajria Anindya Utami
- April 26, 2025
- Crypto
- ojk, transaksi kripto
- 0 Comments
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa nilai transaksi kripto di Indonesia mengalami penurunan signifikan pada Februari 2025. Berdasarkan data resmi, nilai transaksi kripto bulan tersebut tercatat sebesar Rp32,78 triliun, turun sekitar 25,6% dibandingkan dengan Januari 2025 yang mencapai Rp44,07 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa penurunan ini tidak semata-mata mencerminkan melemahnya minat investor terhadap aset kripto. Ia menilai, kondisi global turut berperan besar dalam dinamika ini, termasuk perkembangan kebijakan ekonomi dari Amerika Serikat.
“Salah satu faktor yang memengaruhi adalah gejolak kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meskipun Bitcoin, sebagai aset kripto terbesar, tidak mengalami penurunan harga yang drastis, volatilitas global tetap memberi dampak terhadap sentimen pasar secara keseluruhan,” ujar Hasan kepada media dalam konferensi pers di Kantor OJK, Menara Radius Prawiro, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Indikator “Fear and Greed” Menunjukkan Kekhawatiran Investor

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa indeks “fear and greed”—yang menjadi salah satu indikator sentimen investor dalam dunia kripto—menunjukkan tren ke arah “fear” atau ketakutan. Ini berarti banyak investor memilih untuk menahan diri dan tidak melakukan transaksi kripto besar, menunggu situasi pasar yang lebih stabil.
“Kondisi seperti ini sangat lumrah dalam pasar kripto, di mana investor cenderung mengambil posisi defensif saat terjadi ketidakpastian ekonomi global,” jelasnya.
Namun, di balik penurunan nilai transaksi kripto, Hasan menegaskan bahwa sektor aset kripto di Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang positif. Hal ini tercermin dari jumlah pengguna yang terus meningkat. Pada akhir Februari 2025, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 23,31 juta orang, naik dari 22,92 juta pengguna pada Januari 2025.
“Ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk berpartisipasi dalam dunia aset kripto tetap tinggi. Kami melihat adanya pertumbuhan organik dari investor baru yang mulai mengenal dan terlibat dalam ekosistem ini, baik untuk investasi jangka panjang maupun untuk perdagangan jangka pendek,” tambah Hasan.
Optimisme untuk Kebangkitan Pasar Kripto

Meski sempat mengalami koreksi, OJK memandang penurunan nilai transaksi kripto pada Februari sebagai fenomena sementara. Otoritas yakin akan adanya pembalikan tren di bulan-bulan berikutnya, apalagi jika melihat potensi kenaikan harga dari aset kripto utama seperti Bitcoin yang terus menunjukkan prospek positif.
“Kami memperkirakan bahwa di bulan-bulan berikutnya, akan terjadi rebound seiring dengan perbaikan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya. Hal ini didorong oleh sejumlah faktor, termasuk adopsi institusional, peningkatan minat ritel, serta regulasi yang semakin jelas,” ujarnya.
Hasan juga menyoroti pentingnya peningkatan adopsi kripto secara berkelanjutan sepanjang tahun 2025. Menurutnya, tingkat onboarding atau masuknya investor baru ke dalam pasar kripto nasional masih akan menjadi salah satu indikator utama keberhasilan ekosistem ini.
“Selama onboarding masih tinggi, itu artinya ada kepercayaan dari masyarakat terhadap ekosistem kripto di Indonesia. Ini perlu kita dukung dengan regulasi yang adaptif dan perlindungan konsumen yang kuat,” ucapnya.
Dukungan OJK terhadap Ekosistem Kripto

Sebagai regulator, OJK juga terus mendorong pengembangan sektor aset kripto melalui pendekatan yang seimbang antara inovasi dan perlindungan konsumen. OJK memastikan bahwa setiap entitas yang bergerak di sektor ini harus memenuhi standar kepatuhan dan tata kelola yang ketat.
“OJK berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan teknologi finansial dan aset digital, termasuk kripto. Kita harus bisa memfasilitasi inovasi, namun tetap mengedepankan keamanan bagi konsumen dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan,” tutup Hasan.
Meskipun nilai transaksi kripto di Indonesia mengalami penurunan pada Februari 2025, fundamental pasar tetap menunjukkan tren positif. Dengan dukungan regulasi yang adaptif dan semakin besarnya partisipasi masyarakat, ekosistem kripto nasional diyakini akan kembali bangkit dan melanjutkan pertumbuhannya dalam waktu dekat. OJK sendiri optimis bahwa tahun 2025 akan menjadi periode penting dalam penguatan sektor aset digital di Indonesia.


Leave A Comment