
Harga Emas Kian Melambung, Bagaimana Nasib Bitcoin?
- Fajria Anindya Utami
- May 6, 2025
- News
- 0 Comments
Kenaikan harga emas yang diperkirakan bisa mencapai $5.000 per ons—bahkan lebih—telah menjadi sorotan utama di kalangan investor aset keras. Tokoh-tokoh terkemuka seperti Ed Yardeni, kepala Yardeni Research, dan miliarder John Paulson telah menyuarakan optimisme mereka terhadap potensi lonjakan harga logam mulia ini.
Namun di tengah optimisme tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apa dampaknya terhadap Bitcoin?
Bitcoin vs. Emas: Siapa yang Unggul Saat Reli Bersamaan?

Jika melihat sejarah, Bitcoin cenderung memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar ketika keduanya mengalami kenaikan harga secara bersamaan.
Contohnya, antara Maret 2020 hingga Maret 2022—periode di mana Federal Reserve menerapkan kebijakan moneter yang sangat longgar—harga Bitcoin melonjak sekitar 1.110%. Sementara itu, emas hanya naik sekitar 35,5% dalam periode yang sama. Ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam kinerja kedua aset selama masa ketidakpastian ekonomi dan pelonggaran moneter.
Contoh lainnya terjadi dari November 2022 hingga November 2023. Dalam periode yang ditandai oleh meningkatnya pasokan uang global (M2), emas mencatatkan kenaikan sebesar 25%. Sebaliknya, Bitcoin meroket hingga 150% — hampir enam kali lebih tinggi.
Jika tren ini kembali terulang, dan emas benar-benar naik dari harga saat ini (sekitar $3.265) menjadi $5.000 per ons—kenaikan sekitar 50%—maka tidak mustahil Bitcoin bisa mengalami kenaikan hingga 300%, menjadikannya bernilai sekitar $285.000 per BTC.
Proyeksi ini juga sejalan dengan model hukum pangkat yang dinormalisasi terhadap kapitalisasi pasar emas, sebagaimana dianalisis oleh analis independen dengan nama pengguna apsk32.
Frank Holmes: Emas Menuju $6.000, Bitcoin Bisa Tembus $250.000

Frank Holmes, CEO US Global Investors dan manajer dana veteran, bahkan memproyeksikan bahwa harga emas bisa mencapai $6.000 per ons selama masa jabatan Presiden Trump jika ia terpilih kembali. Menurut Holmes, aset tersebut masih tertinggal dari lonjakan pasokan uang M2, sehingga masih memiliki ruang besar untuk reli.
Ia juga menyoroti potensi pelemahan dolar AS hingga 25% akibat kebijakan tarif proteksionis Trump, yang bisa mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai. Holmes memprediksi Bitcoin dalam jangka pendek dapat menembus resistensi di kisaran $97.000 dan menuju $120.000 hingga $150.000, dengan potensi jangka panjang mencapai $250.000 jika adopsi terus tumbuh dan pasokan tetap terbatas.
Korelasi dengan Emas Bisa Dorong BTC ke $155.000

Di penghujung April 2025, harga emas sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di $3.500 per ons, mencatat kenaikan 33,35% year-to-date (YTD). Meski sejak itu sedikit terkoreksi ke level $3.237 (per 5 Mei), performa emas masih mencolok dibandingkan Bitcoin yang hanya naik 0,82% YTD.
Beberapa analis, seperti Cryptollica, menilai bahwa Bitcoin cenderung menunjukkan pola “ketinggalan sementara” (lagging behavior) terhadap aset safe haven tersebut, namun kemudian mengejar dan bahkan melampaui kenaikan tersebut. Berdasarkan pola ini, mereka memperkirakan bahwa Bitcoin bisa melonjak hingga $155.000 jika berhasil keluar dari fase konsolidasi saat ini.
Penurunan harga BTC sebesar 30% dari rekor tertingginya di kisaran $110.000 dianggap tidak terlalu signifikan jika dibandingkan koreksi-koreksi sebelumnya yang mencapai lebih dari 50%. Ini menunjukkan ketahanan pasar dan memperkuat narasi bahwa Bitcoin kini mulai berperilaku seperti aset lindung nilai.
Selain korelasi tersebut, ada faktor lain yang bisa mempercepat reli Bitcoin, yakni adopsi institusional. Sejak disetujuinya ETF Bitcoin spot di awal 2024, arus masuk modal dari investor institusi meningkat signifikan. Ini bukan hanya meningkatkan likuiditas, tetapi juga memperkuat legitimasi Bitcoin sebagai kelas aset yang sah.
Apabila tren ini terus berlanjut, dan jika emas benar-benar mencapai harga $5.000–$6.000 per ons, maka lonjakan Bitcoin ke kisaran $150.000 hingga $285.000 bukanlah hal yang tidak masuk akal.
Meskipun keduanya adalah aset yang sangat berbeda dalam sifat dan utilitasnya, keduanya semakin dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global. Sejarah menunjukkan bahwa ketika emas menguat, Bitcoin berpotensi menguat jauh lebih besar. Jika harga emas menembus $5.000 per ons, Bitcoin kemungkinan akan bergerak dalam arah yang sama—namun dengan potensi keuntungan yang jauh lebih tinggi.
Bagi investor, memahami dinamika ini dapat menjadi kunci untuk memaksimalkan peluang di tengah perubahan besar di pasar aset global.

Leave A Comment