
Platform DeFi Pendle Sukses Raup TVL Rp15,4 Triliun, Berkat Liquid Restaking Token (LRT), Apa Itu?
Platform keuangan terdesentralisasi (DeFi), Pendle baru saja sukses mencapai total nilai terkunci (TVL) sebesar USD990 juta (Rp15,4 triliun), menurut data DeFiLlama. Pendle menawarkan hasil dalam bentuk token digital yang dapat diperdagangkan.
Pendle beroperasi sebagai alat penemuan harga dengan memisahkan investasi DeFi menjadi token utama atau primary token (PT) dan token hasil atau yield trading (YT), ini memungkinkan perdagangan hasil dan pokok di masa depan di pasar terbuka, sehingga memungkinkan investor untuk berspekulasi dan mengunci tingkat hasil di masa depan.
“Masuknya minat terhadap [Liquid Restaking Tokens] telah menjadi pendorong utama di balik pertumbuhan Pendle baru-baru ini,” ujar pengembang Pendle, RightSide dalam sebuah wawancara di Telegram.
Apa Itu Liquid Restaking Token (LRT)?

Liquid restaking token finance (LRTFi) adalah bidang DeFi baru yang memungkinkan likuiditas aset yang dipertaruhkan melalui penerbitan liquid restaking token (LRT), ini memungkinkan pengguna memperoleh imbalan sementara aset asli mereka dikunci untuk mengamankan layanan jaringan.
“Pendle adalah salah satu pionir LRTfi yang paling awal, menawarkan proposisi unik bagi pengguna untuk berspekulasi mengenai hasil dan poin EigenLayer,” lanjutnya dalam wawancara Telegram.
Baru-baru ini, platform berekspansi ke rantai BNB dan mulai menawarkan produk yang memungkinkan pengguna memanfaatkan aset dunia nyata (RWA).
Lonjakan minat tersebut datang disebabkan oleh peran perusahaan dalam Liquid Restaking Token Finance (LRTFi). Ini adalah ceruk dalam DeFi yang meningkatkan likuiditas aset yang dipertaruhkan melalui liquid restaking token (LRT). Token ini memungkinkan pengguna memperoleh imbalan sementara aset asli mereka tetap terkunci, mendukung layanan jaringan.
Momentum pertumbuhan ini dimulai pada musim panas 2023, yakni setelah integrasi ke dalam “zona inovasi” Binance dan pengenalan produk berdasarkan aset dunia nyata (RWA).
Produk yang menggabungkan elemen MakerDAO dan Flux Finance menawarkan keuntungan dari sektor keuangan tradisional bersama dengan pendapatan DeFi biasa sehingga mendorong TVL dan nilai token Pendle.
Pendle Mulai Bullish Pada 2022

Pendle memulai tren bullish pada Juni 2022, mencapai titik terendah di USD0.036 (Rp526). Harga mengalami sedikit peningkatan menjadi USD0,07 (Rp1.092) sebelum turun kembali untuk menguji ulang titik terendah pada bulan November tahun itu. Hal ini membuka peluang bagi pergerakan ke atas yang lebih substansial.
Pada Juni 2023, perusahaan mencapai angka USD1 (Rp15.611), dan setelah koreksi menjadi sekitar USD0,50 (Rp7.805) pada bulan Agustus, platform mulai naik. Pada tanggal 31 Januari, harga koin telah mencapai level tertinggi sejak debutnya dan terus naik.
Pendakian ini merupakan fase terakhir dari pola naik lima gelombang yang dimulai pada Juni 2022, namun terdapat potensi pertumbuhan lebih lanjut. Harga mungkin akan melonjak lagi menuju level resistance, yang masih menjadi target pergerakan.

Pada akhirnya, platform DeFi ini dapat mencapai USD7 (Rp109.280) di masa depan, tetapi pertama-tama, kita perlu melihat apakah masih ada kekuatan di antara pembeli. Grafik harian Relative Strength Index (RSI) berada tepat di bawah zona overbought sebesar 70%. Meski demikian, bukan berarti harga tidak bisa terus bergerak lebih tinggi.
Namun, di pasar kripto, apapun bisa terjadi dan bisa saja kembali turun. Semakin kuat suatu benda memanjat, semakin besar pula jatuhnya. Mengingat kita telah melihat tren naik sejak Juni 2022, PENDLE siap mengalami koreksi signifikan pertamanya.
Meskipun tidak ada tanda-tanda pelemahan yang jelas, saluran naik pada grafik empat jam mengisyaratkan hal tersebut.
Peluncuran produk yang sedang on demand kemungkinan besar berkontribusi pada volume transaksi yang meningkat signifikan pada platfom. Mengutip postingan X founder Pendle, TN Pendle, menyebutkan bahwa platform yang ia dirikan telah mencapai akumulasi volume sepanjang masa sebesar USD1 miliar (Rp15,6 triliun).
Dalam postingan tersebut, ia menyebutkan bahwa volume transaksi sejak awal 2024 tercatat sebesar USD399 juta (Rp6,2 triliun), dan telah meningkat sekitar +150%. Lebih jauh lagi, perusahaan memiliki volume transaksi sebesar USD5,8 (Rp90.546) sejak awal 2023, mengalami peningkatan sekitar 171 kali lipat hanya dalam setahun.
Peningkatan volume transaksi juga diikuti oleh peningkatan total nilai terkunci (TVL) pada platform. Berdasarkan data DefiLlama, Pendle mencatatkan TVL sebesar USD731 juta (Rp11,4 triliun), peningkatan +147% sejak awal 2024 dan peningkatan sekitar 41 kali lipat sejak awal tahun 2023.
Selain itu, harga token native mereka juga mengalami kenaikan yang signifikan, yakni naik +33% dari USD2,08 ke USD2,74 (Rp42.775). Terhitung sejak awal tahun 2024 (year to date), harga PENDLE telah meningkat sekitar +133%.


Leave A Comment