
Bitcoin Anjlok ke Titik Terendah Baru: Investor Waspadai Manipulasi Pasar
- Fajria Anindya Utami
- August 21, 2025
- Crypto
- bitcoin, bitcoin jatuh, harga anjlok
- 0 Comments
Bitcoin kembali menghadapi tekanan besar pada awal perdagangan Wall Street hari Rabu. Aset kripto terbesar di dunia ini merosot ke titik terendah lokal baru, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor meskipun sebagian pihak masih berusaha menahan aksi jual yang berulang di pasar Amerika Serikat.
Menurut data dari Cointelegraph Markets Pro dan TradingView, pasangan BTC/USD sempat jatuh di bawah level US$113.000. Padahal sebelumnya harga Bitcoin sempat pulih tipis setelah pembukaan harian. Tekanan jual yang semakin besar membuat para pelaku pasar menyoroti area likuiditas penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan berikutnya.
Likuiditas Pasar Bitcoin Jadi Sorotan

Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa level US$112.300 kini menjadi titik perhatian utama para trader. Salah satu analis populer, Daan Crypto Trades, menjelaskan bahwa selama enam minggu terakhir Bitcoin telah “menguras” banyak likuiditas di kedua sisi, karena pergerakannya terkunci dalam rentang harga yang relatif sempit.
“Klaster terbesar saat ini berada di sekitar US$120.000, sedangkan level terendah lokal di US$112.000 masih relevan. Dua area ini berpotensi menjadi zona pembalikan harga atau magnet likuiditas yang bisa menarik pergerakan jangka pendek,” ujarnya di platform X.
Sementara itu, Keith Alan, salah satu pendiri Material Indicators, menyoroti munculnya likuiditas bid lebih tinggi di bagian bawah order book. Ia bahkan menyebut adanya “perlindungan penurunan” di area US$105.000. Namun Alan memperingatkan bahwa pergerakan tersebut bisa saja merupakan bentuk manipulasi pasar.
Alan merujuk pada dua entitas yang ia sebut sebagai “Spoofy the Whale” dan “Notorious B.I.D.”, yang selama beberapa bulan terakhir kerap dicurigai sebagai aktor yang sengaja memengaruhi pergerakan harga dengan menempatkan order besar untuk menciptakan ilusi permintaan atau penawaran.
“Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apa pun, tapi jelas pengaruh mereka terhadap arah harga tetap signifikan. Penawaran yang bergerak lebih rendah cenderung mendorong harga turun lebih dalam,” jelasnya.
Ancaman untuk Altcoin

Tak hanya Bitcoin, pasar altcoin juga berpotensi terdampak cukup besar. Komentator populer TheKingfisher memperingatkan bahwa jika Bitcoin terus melemah, altcoin bisa mengalami koreksi lebih dalam.
“Altcoin saat ini terlihat seimbang, dan mungkin akan ada sedikit retracement untuk melikuidasi posisi short dengan leverage tinggi. Namun, jika BTC turun 5%, altcoin bisa terkoreksi 10–30%,” tulisnya di X.
Pola penurunan bertahap ini dianggap berbahaya karena bisa membuat altcoin berdarah secara perlahan, terutama jika investor ritel panik dan mulai menjual asetnya.
Meski sentimen pasar terlihat bearish, beberapa analis tetap melihat peluang optimis. Rekt Capital, salah satu trader dan analis kripto terkenal, menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini memiliki kesamaan dengan siklus bullish sebelumnya, tepatnya pada tahun 2017 dan 2021.
“Retracement yang sedang kita alami bukanlah hal baru. Pola serupa terjadi di periode yang sama dalam siklus tersebut. Dan pada akhirnya, retracement itu justru menjadi pemicu kenaikan menuju rekor harga tertinggi baru,” ujarnya.
Jika pola historis ini kembali terulang, maka tekanan jual saat ini bisa menjadi bagian dari konsolidasi sehat sebelum Bitcoin melanjutkan tren bullish jangka panjang.
Semua Mata Tertuju pada The Fed

Selain faktor internal pasar kripto, investor juga menantikan arah kebijakan moneter dari Federal Reserve. Pekan ini, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juli akan dipublikasikan. Namun yang paling ditunggu adalah pidato Jerome Powell, Ketua The Fed, pada simposium ekonomi tahunan di Jackson Hole.
Tahun lalu, Powell sempat memberikan sinyal jelas terkait pemangkasan suku bunga. Pernyataan serupa tahun ini bisa menjadi katalis penting bagi pasar, termasuk Bitcoin. Jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga, maka aset berisiko seperti kripto bisa mendapat dorongan positif.
Namun, analis dari QCP Capital memperingatkan bahwa ketidakpastian tetap tinggi. “Taruhannya besar. Powell harus menentukan arah kebijakan moneter di tengah situasi di mana inflasi mulai turun tetapi risiko ketenagakerjaan meningkat,” tulis mereka dalam pembaruan pasar terbaru.
Saat ini, pasar memperkirakan kemungkinan 80–95% bahwa FOMC pada 17 September akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, data ekonomi baru yang masuk dapat dengan cepat mengubah ekspektasi tersebut.
Bitcoin kembali menghadapi ujian besar setelah menyentuh titik terendah lokal baru di bawah US$113.000. Spekulasi tentang manipulasi pasar, risiko altcoin ikut jatuh, hingga ketidakpastian kebijakan The Fed membuat investor harus berhati-hati. Meski begitu, catatan sejarah menunjukkan bahwa retracement di fase ini bisa menjadi bagian normal dari siklus bullish yang lebih besar.
Kini semua mata tertuju pada pidato Jerome Powell di Jackson Hole. Keputusan The Fed soal suku bunga bisa menjadi faktor penentu, apakah Bitcoin akan terus tertekan atau justru bangkit menuju level yang lebih tinggi.


Leave A Comment