
Patung Satoshi Nakamoto Dicuri: Simbol Bitcoin Global yang Kini Hilang
- Fajria Anindya Utami
- August 3, 2025
- Crypto
- bitcoin, satoshi, satoshi nakamoto
- 0 Comments
Sebuah patung unik yang menghormati pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, dicuri dari taman Parco Ciani di Lugano, Swiss. Kabar ini bukan hanya menggemparkan komunitas kripto global, tapi juga menyoroti bagaimana sosok anonim ini tetap hidup sebagai simbol bersama, meskipun wujud fisiknya hilang.
Pencurian tersebut dikonfirmasi oleh Satoshigallery, komunitas internasional di balik proyek pemasangan patung di 21 kota di seluruh dunia. Melalui akun X (dulu Twitter), mereka menulis:
“Di mana Satoshi? Kalian bisa mencuri simbol kami, tapi kalian tidak akan pernah bisa mencuri jiwa kami.”
Tak butuh waktu lama, grup tersebut langsung mengumumkan hadiah 0,1 Bitcoin (senilai lebih dari USD 11.000 atau sekitar SGD 14.800) bagi siapa pun yang memberikan informasi akurat yang bisa mengarah pada penemuan kembali patung tersebut.
Sebuah Karya Seni dengan Jiwa Kolektif

Patung Satoshi yang dicuri bukanlah karya biasa. Dirancang oleh seniman Italia sekaligus pendukung Bitcoin, Valentina Picozzi, patung ini dibuat dari baja tahan karat 304 dan blok corten, bahan tahan lama yang mencerminkan kekuatan dan ketahanan jaringan Bitcoin itu sendiri.
Yang membuatnya istimewa, patung ini dirancang agar menghilang jika dilihat dari depan atau belakang. Di tengahnya, sosok tanpa wajah duduk di depan laptop. Ini bukan hanya simbol anonimnya Satoshi Nakamoto, tetapi juga menyampaikan pesan kuat:
“Kita semua adalah Satoshi.”
Konsep ini memakan waktu 18 bulan untuk riset dan 3 bulan pengerjaan. Patung tersebut diresmikan pada Oktober 2024, bertepatan dengan Forum Plan B, acara blockchain tahunan yang diselenggarakan oleh kota Lugano bersama dengan Tether, penerbit stablecoin terkemuka.
Lugano: Kota yang Bertaruh pada Masa Depan Kripto
Bagi Lugano, patung ini lebih dari sekadar instalasi seni. Ini adalah simbol dari komitmen kota terhadap inovasi digital. Wali kota Michele Foletti menyebutnya sebagai bentuk nyata dari semangat berpikiran maju yang mereka anut:
“Lugano dengan cepat menjadi pusat inovasi digital terkemuka, dan patung ini menghormati Satoshi Nakamoto, tetapi juga mewujudkan semangat berpikiran maju yang mendorong kota kami.”
Kota ini memang tidak main-main dalam mendukung aset digital. Selain menyelenggarakan forum blockchain, mereka juga mendorong penggunaan kripto dalam sektor publik dan swasta, menjadikan Lugano salah satu eksperimen paling serius tentang bagaimana kota masa depan bisa berjalan dengan teknologi terdesentralisasi.
Satoshi di Mana-Mana, Tapi Tak Pernah Diketahui

Yang menarik, ini bukan satu-satunya penghormatan publik untuk Nakamoto. Pada tahun 2021, sebuah patung perunggu ini juga diresmikan di Graphisoft Park, Budapest. Patung tersebut menampilkan wajah reflektif seperti cermin, mengizinkan pengunjung untuk melihat diri mereka sendiri sebagai “Satoshi”.
Konsep ini memperkuat filosofi utama dari penciptaan Bitcoin: anonimitas, desentralisasi, dan identitas kolektif.
Meskipun tidak ada yang benar-benar tahu siapa Satoshi Nakamoto, apakah individu atau kelompok, dampaknya nyata: menciptakan sistem keuangan terdesentralisasi yang nilainya kini triliunan dolar.
Satoshi Kini Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia

Kekuatan simbolis ini diperkuat oleh fakta bahwa, setidaknya secara teori, Satoshi Nakamoto kini menjadi orang terkaya ke-11 di dunia. Saat Bitcoin menyentuh harga $120.000 bulan lalu, kekayaan Nakamoto yang diyakini memiliki sekitar 1,096 juta BTC mencapai lebih dari $131 miliar.
Namun, yang menarik adalah dompet itu belum pernah bergerak sejak awal. Tak ada penjualan. Tak ada penarikan. Ini memperkuat narasi bahwa siapa pun Satoshi itu, ia tidak menciptakan Bitcoin demi kekayaan pribadi.
Untuk melampaui Elon Musk, yang memiliki kekayaan lebih dari $400 miliar, harga Bitcoin harus naik lebih dari tiga kali lipat. Tapi sampai saat ini, Nakamoto tetap tak tersentuh—baik secara identitas maupun saldo.
Mengapa Pencurian Ini Lebih Dari Sekadar Kriminalitas Biasa
Pencurian patung ini menyentuh lebih dari sekadar kehilangan benda seni. Ini mengguncang simbol kolektif yang selama ini mempersatukan komunitas kripto global. Tapi di saat yang sama, respon komunitas menunjukkan ketahanan dan solidaritas.
Proyek 21 kota tetap akan berjalan. Dan kemungkinan besar, pencurian ini hanya akan memperkuat tekad Satoshigallery untuk menyebarkan simbol ini ke lebih banyak tempat.
Patung itu mungkin dicuri. Tapi semangat di baliknya,anonimitas, kolektivitas, desentralisasi, tak bisa dirampas begitu saja. Sama seperti Bitcoin yang tak bisa dimatikan oleh satu negara atau lembaga, identitas Satoshi kini hidup dalam jutaan orang yang mempercayai visinya.
Dan justru karena tak diketahui, Satoshi menjadi milik semua orang.


Leave A Comment