Bursa Kripto yang Masih Ditunggu di Indonesia

Jumlah Investor Kripto di Indonesia Melonjak, Saham Mulai Ditinggal?

Rakyat Indonesia tampaknya mulai semakin terbuka dan menjadi investor kripto. Ini karena berdasarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat adaptasi investor kripto sangat cepat di Indonesia, ditandai dengan jumlahnya mencapai terbesar ke-7 di dunia pada tahun 2023 saja.

“Bahkan dalam global crypto adoption dalam perspektif global Indonesia terbesar ke-5. Hal ini menunjukkan minat besar di aset kripto,” ujar Hasan Fawzi Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto dalam konferensi pers baru-baru ini.

Mengutip CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (6/8/24) meski demikian, para investor kripto masih masuk ke dalam fase awal atau early stage.

“Karenanya kami melihatnya tidak sepenuhnya pergeseran investor pasar saham ke pasar kripto dalam hal ini. Sebab untuk setiap pasar instrumen baik transaksi maupun investasi sebetulnya memiliki karakteristik sendiri-sendiri sesuai profil risiko,” tambah Hasan.

OJK melihat ke depannya peluang aset kripto akan semakin meningkat ditambah tingginya literasi dan awareness terhadap budaya berinvestasi. Apalagi dengan adanya teknologi dan aplikasi untuk memudahkan investasi di kripto yang memanfaatkan blockchain serta artificial intelligence (AI), investor muda akan semakin banyak lagi.

Karena itulah, investor saham yang beralih ke instrument kripto menjadi sebab rata-rata transaksi harian (RNTH) saham lesu sepanjang tahun. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (26/7/2024), rata-rata nilai transaksi harian saham turun ke kisaran Rp11,89 triliun. Adapun, nilai tersebut masih di bawah target RNTH BEI sebesar Rp12,25 triliun pada tahun ini.

Bahkan, di tengah lesunya transaksi saham sepanjang tahun ini, nilai transaksi kripto justru meningkat pesat.  Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat nilai transaksi aset kripto pada periode Januari 2024 hingga Juni 2024 mencapai angka Rp301,75 triliun.

Investor Kripto di Indonesia Melonjak

investor kripto

Investor kripto disebut-sebut makin bertambah setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan kebijakan papan pemantauan khusus dengan mekanisme full periodic call auction (FCA). Chief Executive Officer (CEO) Tokocrypto, Yudhono Rawis sepakat dengan hal itu.

“Pada bulan Maret 2024 atau saat diberlakukannya FCA, ada peningkatan sekitar nilai transaksi sebesar 142% atau mencapai total transaksi sejumlah USD1,3 miliar,” kata Yudhono.

Selain itu, Yudhono menyebutkan, peningkatan juga terjadi pada pengguna baru sekitar 20% dan pengguna aktif sekitar 40% yang menandakan antusias investor dan trader terhadap dinamika pasar kripto pada saat itu.

“Rata-rata pengguna baru yang bergabung dengan Tokocrypto direntang usia 25 tahun-35 tahun yang bisa digolongkan sebagai Gen Milenial dan Gen Z,” imbuhnya.

Yudhono mengakui, kenaikan nilai transaksi tersebut juga didorong beberapa faktor. Salah satunya yakni melonjaknya harga Bitcoin dan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto. Terlebih, pemulihan harga Bitcoin yang sempat mencapai harga tertinggi baru sepanjang masa.

Tren Investasi Kripto Juga Kembali Populer di China

Hong Kong Paling Siap untuk Kripto 2022
Gambar: PYMNTS.com

Tak hanya di Indonesia, tren investasi kripto juga kembali populer di China karena saham nasional masih mengalami penurunan. Menurut Reuters, meskipun pembelian dan perdagangan mata uang kripto telah dilarang sejak 2021, investor China akan selalu menemukan cara untuk mengalokasikan sebagian besar portofolio mereka ke mata uang kripto.

Investor kripto di China dapat menggunakan bursa seperti grup perdagangan Binance dan Okx serta metode pembayaran tradisional seperti Alipay dan WeChat untuk membeli stablecoin dari dealer lokal dan memasuki arena investasi mata uang kripto. Selain itu, ada juga pertukaran over-the-counter yang memfasilitasi akses ke kripto.

Seorang eksekutif senior mengkonfirmasi hal ini. Ia mangatakan bahwa kemerosotan yang terjadi telah membuat investasi di daratan China sangat berisiko, tidak pasti, dan mengecewakan, sehingga orang-orang mulai mengalokasikan aset di luar negeri.

Tak hanya perorangan, lembaga-lembaga besar juga mencari cara lain akibat kalah pertaruhan dalam kinerja pasar investasi tradisional.

Chainalysis, sebuah perusahaan intelijen blockchain, telah mengkonfirmasi jumlah investor kripto China telah meningkat mencapai posisi ke-13 di pasar peer-to-peer global pada 2023, naik dari peringkat 144 pada 2022.

Transaksi mereka kini telah berjumlah USD86,4 miliar atau setara Rp1.362 triliun antara Juli 2022 dan Juni 2023, lebih dari apa yang diperdagangkan di Hong Kong pada periode yang sama.

Leave A Comment