mark zuckerberg meta

Meta Tolak Bitcoin Jadi Cadangan Kas, Ini Alasannya

Pada Agustus 2020, perusahaan intelijen bisnis MicroStrategy (MSTR) menjadi pelopor dengan mengadopsi Bitcoin (BTC) sebagai aset cadangan kas utama mereka. Langkah berani ini dianggap revolusioner dan menginspirasi sejumlah perusahaan lain untuk mengevaluasi strategi keuangan mereka. Namun, hampir empat tahun berlalu, perusahaan teknologi besar lainnya tampak enggan mengikuti jejak tersebut.

Salah satu contohnya adalah Meta, yang pada rapat umum pemegang saham tanggal 28 Mei 2025, menolak sebuah proposal untuk mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset cadangan kas. Proposal tersebut ditolak secara telak, dengan rasio suara 1.221 menentang dan hanya 1 mendukung.

Mengapa Perusahaan Menolak Bitcoin?

bitcoin pakistan
Cointelegraph/Bitcoin

Cadangan kas biasanya digunakan perusahaan untuk menutup kewajiban jangka pendek, keadaan darurat, atau peluang bisnis mendadak. Oleh karena itu, instrumen yang dipilih cenderung konservatif, seperti uang tunai, surat utang negara jangka pendek, atau dana pasar uang. Bitcoin, meski potensial, dianggap terlalu volatile dan tidak likuid secara langsung untuk memenuhi fungsi ini.

Profesor Aswath Damodaran dari New York University bahkan menyebut proposal Meta tersebut sebagai “gila.” Ia menekankan bahwa cadangan kas bukanlah tempat untuk investasi spekulatif. Bahkan Campbell Harvey, profesor keuangan dari Duke University yang dikenal positif terhadap teknologi blockchain, mengatakan:

“Jika investor ingin punya Bitcoin, mereka bisa membelinya sendiri. Tidak jelas apa peran Bitcoin dalam fungsi perbendaharaan perusahaan, kecuali perusahaan itu menjalankan bisnis dalam ekosistem kripto.”

Harvey menambahkan bahwa stablecoin jauh lebih cocok untuk cadangan perusahaan karena likuiditasnya yang tinggi dan nilainya yang relatif stabil, karena dipatok pada aset seperti dolar AS.

MicroStrategy dan Blueprint yang Menggoda

michael saylor microstrategy
MicroStrategy/Business Insider

Meski skeptisisme tinggi, MicroStrategy menunjukkan hasil yang mencolok. Sejak mengadopsi Bitcoin sebagai cadangan utama, harga saham MSTR melonjak lebih dari 2.400%, melampaui performa raksasa seperti Nvidia, Tesla, bahkan Microsoft. Ini memberi sinyal bahwa strategi tersebut bisa sangat menguntungkan—jika dikelola dengan pemahaman risiko yang memadai.

Namun, seperti ditegaskan oleh Harvey, ini sebaiknya dianggap sebagai investasi strategis berisiko tinggi, bukan aset cadangan kas:

“Perusahaan memang kerap berinvestasi pada startup. Jika mereka ingin investasi strategis pada Bitcoin, itu sah-sah saja. Tapi jangan sebut itu sebagai strategi perbendaharaan.”

Ketakutan Institusional dan Kontrol Zuckerberg

mark zuckerberg meta
Getty Images

Penolakan terhadap proposal Bitcoin Meta memang mencolok, tapi tidak bisa dilepaskan dari struktur kontrol perusahaan. CEO Mark Zuckerberg memiliki 61% kekuatan suara, sehingga keputusan akhir mencerminkan keinginannya secara pribadi, bukan opini mayoritas investor ritel.

Stefan Padfield dari National Center for Public Policy Research menjelaskan bahwa suara pemegang saham Meta belum tentu menolak Bitcoin itu sendiri, tapi lebih karena keengganan untuk “dipaksa mempertimbangkan sesuatu” oleh proposal luar. Ia menambahkan bahwa pendapat tentang Bitcoin masih terbagi luas di kalangan eksekutif dan dewan perusahaan.

Di sisi lain, beberapa pakar menyayangkan sikap konservatif ini. David Tawil, presiden ProChain Capital, berpendapat bahwa menyimpan terlalu banyak uang tunai justru merugikan:

“Meta menyimpan miliaran dolar dalam bentuk uang tunai. Lebih baik jika sebagian dari dana itu diinvestasikan ke Bitcoin untuk diversifikasi dan perlindungan terhadap inflasi.”

James Butterfill dari CoinShares bahkan menambahkan bahwa alokasi Bitcoin sebesar 3% saja dapat menggandakan rasio Sharpe, yakni indikator performa yang disesuaikan dengan risiko. Ia juga mencatat bahwa rata-rata alokasi aset digital di antara pengelola dana besar kini naik menjadi 1,8% per April 2025, dari hanya 1% pada Oktober 2024.

Adopsi Mulai Meningkat di Luar AS

prediksi Bitcoin pensiun
Cointelegraph/Bitcoin

Meskipun perusahaan Big Tech di AS masih berhati-hati, tren adopsi secara global justru menunjukkan arah sebaliknya. Pada 3 Juni, Blockchain Group di Paris menambahkan $68 juta dalam bentuk Bitcoin ke neraca mereka. Sehari kemudian, K Wave Media Korea mengumumkan rencana mengumpulkan $500 juta untuk membeli Bitcoin sebagai strategi perbendaharaan.

Menurut data CoinShares, sudah ada lebih dari 70 perusahaan yang mengadopsi Bitcoin tahun ini. Namun, Butterfill menekankan bahwa banyak langkah ini lebih bersifat taktis untuk menaikkan harga saham, bukan karena keyakinan jangka panjang.

Debat soal apakah Bitcoin cocok sebagai cadangan kas perusahaan masih jauh dari selesai. Volatilitas tetap menjadi penghalang utama, meski ironisnya, Butterfill mencatat bahwa selama dua bulan terakhir volatilitas Bitcoin lebih rendah dari saham Meta sendiri.

Bagi perusahaan dengan fokus non-kripto, seperti Meta, adopsi Bitcoin mungkin belum masuk akal saat ini. Namun, perubahan pola pikir dan makin kuatnya infrastruktur keuangan berbasis kripto bisa jadi akan memaksa para raksasa teknologi untuk meninjau ulang strategi mereka di masa depan.

Leave A Comment